Waktu menggelinding cepat tanpa ragu, meninggalkan memori-memori yang kelak mungkin dirindu. Tahun ini saya menginjak dua puluh satu, dan masih memiliki setahun lebih lagi untuk menyelesaikan masa kuliah.
Setahun lagi ya.. terdengar lama namun kadang rasanya cuma sekerjap mata. Banyak rencana yang saya buat untuk menuju kehidupan nyata pasca-sarjana, namun yah itu, masih labil, berubah-rubah bagai cuaca. Ingin kerja lah, ingin lanjut kerja lah, ingin keliling dunia lah, ingin kerja sukarela lah, banyak sekali wacana.
Dasar memang aku pemimpi ulung, terlalu banyak mimpi tapi masih takut memulai langkah kaki.
But again ; que sera, sera. whatever will be, will be. the future is not ours to see. Semua masih misteri, walau bisa diubah namun masih tetap tak terprediksi. Seperti 2014, yang saya buka dengan terlalu banyak air mata namun masih ada tawa ikhlas terselip disana.
Teman yang datang dan pergi, penghianatan dalam dari orang tersayang dan terhormat, tempat-tempat baru yang ternyata bisa mencuri hati, datang kondangan teman pertama kali, merasakan yang namanya magang, patah hati tak terperi, belajar memalsukan emosi, banyak sekali.
Semua berubah, semua fana, semua punya asam-manis nya. Namun juga ada yang tetap tinggal, tetap menguat dan terikat, ada juga faham baru yang lebih ideal untuk saya aplikasikan, ada juga hati yang lebih tahan banting, melahirkan seorang saya yang lebih berhemat air mata.
Dulu saya kira 2013 adalah tahun terberat dan terbaik saya, ternyata saya salah 2014 lebih mengejutkan saya, menampar saya dan menonjok saya namun juga melambungkan dan memanjakan saya dengan arti kebahagiaan sejujurnya. Entah apa yang 2015, 2016 selanjutnya berikan pada saya, entah, yang pasti itulah kehidupan, semakin tambah bilangan seharusnya semakin dewasa, semakin bijaksana.
Mungkin sebenarnya terlihat tak banyak yang berubah, mungkin ada yang merasa saya terlalu berubah, mungkin banyak kemungkinan untuk berfikir "Mungkin..." tapi saya tanamnkan saja dalam kepala, mungkin inilah jalannya, jalan seorang saya, diberikan secara terencana oleh Yang Kuasa. Untuk menggembleng saya agar belajar melihat dari segala arah, belajar mengenal dan melupakan, belajar tertawa ditengah tangisan, belajar prihatin ditengah kegembiraan.
2014 tinggal 8 hari lagi, 8 hari lagi menuju tutup buku. Target-target baru harus segera disusun, kisah-kisah lalu harus segera ditutup, jurnal tahunan harus segera dibeli untuk menyambut tahun baru dan gratitude-list 2014 saya harus segera dirangkum. Agar saya masih bisa berterimakasih, masih bisa menginjak bumi, masih bisa bersyukur akan detail kehidupan.
12/23/2014
11/12/2014
Sekejap mata di Chiang Mai
Pada tanggal 7-9 November 2014 kemaren, dengan modal kenekatan, keberanian dan sejumlah budget yang rada minim saya membulatkan hati untuk melancong sendirian ke sebuah kota kecil di utara Thailand bernama Chiang Mai. Sebenernya tujuan utama saya pengen liat festival Loy Krathong dan Yi Peng gitu dan emang paling terkenal diadakan di kota ini
Dan, yeah, sendirian. Pertama kalinya saya traveling solo secara independen dengan modal sebuah backpack ukuran sedang, yah walaupun cuma 3 hari tapi lumayan mendebarkan lah untuk seorang wanita, first timer, solo pula, ketempat yang you-have-no-idea tentang cara baca dan nyebut bahasanya yang keriting-kerinting bikin kzl :")
Nah, kalau Bangkok di ibaratkan Jakarta, Phuket di ibaratkan Bali, Krabi di ibaratkan Lombok, maka Chiang Mai di ibaratkan Jogja. Kotanya tak seberapa besar, dengan tata kota yang apik, jalan-jalan yang sempit dan warganya yang ramah-hangat-santun. Kotanya kecil, compact, kemana-mana deket malah bisa jalan kaki doang. Dan ada banyak pilihan transportasi seperti taksi, tuk-tuk, songthaew dan sewa sepeda motor (murah banget!)
Kota Chiang Mai dari puncak Doi Suthep (Mount Suthep)
Seperti yang saya bilang sebelumnya tujuan saya utama adalah ngeliat festival Loy Krathong dan Yi Peng. Loy Krathong adalah festival yang diadakan pada saat bulan purnama kedua belas dalam penanggalan Thailand.
Nah pada saat ini orang-orang Thailand membuat semacam sesajen mini yang berbentuk teratai kecil dengan lilin dan dupaditengahnya, terus sesajen ini nantinya bakal dilepas ke sungai tapi sebelum itu mereka make-a-wish gitu dulu. Dan festival Loy Krathong ini diadakan diseluruh penjuru Thailand dan beberapa bagian di Laos dan Burma. Kalau Yi Peng sendiri sendiri adalah nama lain Loy Krathong di Thailand bagian utara (Lanna). Tapi bedanya kalo Yi Peng ada tradisi seperti pawai kereta-kereta yang dihias cantik dengan bunga-bunga, lampu-lampu dan dekorasi lain dan juga tradisi melepas 'khom loi' atau floating latern, jadi ala-ala film Tangled gituuu, unyu kan :))
Seharusnya langitnya kelihatan penuh khom loi, tapi karena kemakan cahaya lampu kota jadi gak keliatan jelas kalo di foto :")
Wat Chedi Luang, dibangun pada abad ke-14, tingginya 60 meter bwook!
Wat Phra That Doi Suthep, wat-nya mewah en borju.
Ada yang nyempilin duit di patung Buddha.
Terus saya juga ke Saturday Market-nya Wua Lai yang bukanya dari sore sampe tengah malem. Katanya yang punya guesthouse yang saya inapi Saturday Market gak sebesar dan seheboh Sunday Market (yang gak bisa saya datangin karena saya baliknya hari Minggu siang hikshiks). Jadi saya cuma expect bakal jalan-jalan dikit sambil cari makan. Taunya gede bangeeetttt!!!! Ada kali 1 km meter panjangnya belum lagi yang nyempil di gang-gang sempit. Alhasil pulang-pulang kaki pegal dan dompet terkuras karena belanja over-budget, gakuat liat pernak-pernik ala Thailand yang lucu dan warna-warni ngejreng. Tak lupa dengan perut penuh dan puas makan mango sticky rice dua porsi dan murah meriah.
Karena keadaannya rame banget saya males buat ngeluarin hp atau kamera untuk dokumentasi.
Besoknya selepas check-out dari guesthouse, Thongran's House (recommendeddddd!!!), si mbak yang punya, sebut saya Mbak Kibb yang super-duper-baik-banget itu bilang :
"Nanti kalau kamu ada waktu dan rejeki datang lagi yah ke Chiang Mai, jangan sebentar doang, harus lama. Supaya kamu bisa lihat-lihat tempat lainnya lagi. Masih banyak loh. Ajak teman kamu, ajak keluarga kamu."
"Pasti. Datang sendiri aja lagi pun saya nekad kok demi balik kesini lagi."
Siapa yang nekad kalau memang sudah telanjur jatuh cinta sama Chiang Mai ;)
Check juga video 15 detik dokumentasi amatir saya tentang festival Loy Krathong + Yi Peng dan wisata ke wat-wat sekitar dibawah ini!!!
Seperti yang saya sebutin sebelumnya kalau Chiang Mai itu ibarat Jogja kalo di kita, dan sama persis dengan Jogja, kota ini memiliki banyak tempat wisata bersejarah tersebar disetiap sudut. Terutama temple atau kuil buddha atau dalam bahasa setempat disebut 'wat', bener-bener literally banyak banget kuil disini. Kayak per 200 meter sekali pasti ada wat. Mau ditengah kota kek mau diatas gunung kek pasti ada wat. Dan wat-wat tersebut rata-rata sudah berusia ratusan tahun tapi masih berdiri megah dengan ukiran cantik yang terjaga. Wat selalu dipenuhi pengunjung, baik orang lokal maupun turis darimana-mana, baik untuk beribadah atau cuma mau liat-liat doang.
Saya berkunjung ke beberapa wat paling nge-hits disana. Emang saya pada dasarnya suka wisata sejarah dan budaya dan sesuatu yang gratis-gratis jadi saya sangat menikmati wisata wat yang bisa dibilang yah sejenis wisata religi.
Wat Phra That Doi Suthep, wat-nya mewah en borju.
Ada yang nyempilin duit di patung Buddha.
Terus saya juga ke Saturday Market-nya Wua Lai yang bukanya dari sore sampe tengah malem. Katanya yang punya guesthouse yang saya inapi Saturday Market gak sebesar dan seheboh Sunday Market (yang gak bisa saya datangin karena saya baliknya hari Minggu siang hikshiks). Jadi saya cuma expect bakal jalan-jalan dikit sambil cari makan. Taunya gede bangeeetttt!!!! Ada kali 1 km meter panjangnya belum lagi yang nyempil di gang-gang sempit. Alhasil pulang-pulang kaki pegal dan dompet terkuras karena belanja over-budget, gakuat liat pernak-pernik ala Thailand yang lucu dan warna-warni ngejreng. Tak lupa dengan perut penuh dan puas makan mango sticky rice dua porsi dan murah meriah.
Karena keadaannya rame banget saya males buat ngeluarin hp atau kamera untuk dokumentasi.
Besoknya selepas check-out dari guesthouse, Thongran's House (recommendeddddd!!!), si mbak yang punya, sebut saya Mbak Kibb yang super-duper-baik-banget itu bilang :
"Nanti kalau kamu ada waktu dan rejeki datang lagi yah ke Chiang Mai, jangan sebentar doang, harus lama. Supaya kamu bisa lihat-lihat tempat lainnya lagi. Masih banyak loh. Ajak teman kamu, ajak keluarga kamu."
"Pasti. Datang sendiri aja lagi pun saya nekad kok demi balik kesini lagi."
Siapa yang nekad kalau memang sudah telanjur jatuh cinta sama Chiang Mai ;)
Check juga video 15 detik dokumentasi amatir saya tentang festival Loy Krathong + Yi Peng dan wisata ke wat-wat sekitar dibawah ini!!!
10/25/2014
Review Buku : Gelombang
Gumam di hati : "Ah dasar... bilangnya dulu mau konsisten ngisi blog eh tapi ternyata terakhir kali ngepost itu bulan Agustus, tepat ulang tahun Indonesia. Ngerasa... gak produktif lo Rin."
Okay lupakan, basa-basi busuk diatas. Di post kali ini saya cuma mau review satu buku, buku yang saya tunggu-tunggu banget kehadirannya semenjak bertahun lalu tepatnya setelah selesai membaca buku terakhir dari seriesnya yaitu : Gelombang oleh Dewi Lestari. #jrengjreng
Sebagai seorang fan, Gelombang bak anak seorang raja nan agung yang dinanti-nanti kelahirannya dan diharapkan kelak bakal sehebat bahkan lebih hebat daripada pendahulunya.
Waktu Ibu Suri a.k.a Dee a.k.a Dewi Lestari mulai ngasih #kode tentang pembuatan Gelombang di instagram beliau sekitaran setahun lalu, saya excited bukan main. Menebak-nebak dan bertanya-tanya siang-malam (agak lebay) tentang buku lanjutan seri Supernova ini. Spoiler-spoiler dari feed instagram beliau membuat saya makin bernafsu menebak-nebak tentang apakah si Gelombang ini, apakah tentang telepati, lucid dreaming, anak indigo, manusia anti-gravitasi, pengendali air ataukah tentang benda-benda kimiawi yang sedap diemut #eh
Sampai akhirnya Gelombang resmi lahir dan bisa diraih di toko buku terdekat pada 17 Oktober 2014. Saat itu saya sedang bervakansi di luar kota dan memang rencananya akan membaca setelah pulang kerumah agar makin berasa kualiti time bersama "dedek baru" ini.
Dan dalam waktu kurang dari 48 jam selesai saya lahap dia sampai habis, berusaha menyerap sebaik mungkin dan akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah review.
Yok, mulai!
(note : Ini sinopsis apalagi spoiler. Ini murni opini pribadi seorang Karina. Mau tau ceritanya? Beli dan baca sendiri!)
Buku ini pada dasarnya adalah kehidupan misterius penuh tanda tanya dari tokoh utama, Alfa yang merupakan hasil re-branding dari seorang Ichon. Dan sedikit cerita lama yang tak kunjung usai yaitu kisah Gio yang masih berusaha mencari Diva.
Nah balik ke kisah utama. Karakter Alfa, si cowok Batak yang digambarkan sebagai hotstuff from East, menurut saya entah mengapa perjalan hidupnya nampak terlalu mudah dan lempeng-lempeng saja, tidak se-struggle para pratagonis dari buku-buku sebelumnya. Namun bukan berarti saya jadi pesimis saat bacanya, cerita hidup beliau yang rada nyentrik dan misterius itu yang membuat bertanya-tanya dan gak rela untuk melepas buku itu dari bawah hidung saya.
Kehadiran Si Jaga Portibi sebagai penjaga Alfa dan hubungannya dengan kekuatan tersembunyi yang dimilikinya membuat saya berfikir keras sampai dan membuka laci memori tentang empat buku pendahulu, apakah pernah disebut-sebut, apakah pernah disinggung-singgung sebelumnya.
Dan sampailah saya dipertengahan buku, saat Alfa hijrah ke Jakarta lalu Amerika, di momen itu bisa saya bilang agak menjemukan dan terulur terlalu panjang sehingga saya sempat merasa sedikit ummm... bosan. Tapi, tapi, tapi gak lama kemudian muncul sosok mbak-mbak urban, nampak mapan dan seksi bernama Ishtar muncul dan membawa cinta, nestapa dan tanda tanya besar kepada hidup Alfa dan juga para pembaca. Dan disinilah grafik semangat membaca langsung naik drastis. Cerita pun makin fokus ketujuan dan beberapa karakter baru yang cukup kuat dan punya peran besar muncul (karena ada banyak karakter kurang penting yang cuma bikin plotnya semakin gemuk dan rada bertele-tele) dan menemani Alfa memecah teka-teki besar tentang masalahnya dan dirinya sendiri.
Benarlah akhirnya, ujung-ujung saya pun terpaksa mengingat kembali apa yang terjadi dari buku-buku terdahulu, yaitu buku pertama dan kedua. Karena mereka disebut-sebut disana, karena katanya mereka memang terhubung satu sama lain (yaiyalah.. makanya jadi series). Sampai saya tiba disatu titik, nyaris diujung buku, dimana terpampang semua penjelasan akan masalah si Alfa, siapa dia, mengapa dia begitu, apa itu yang itu, lalu apa hubungannya sama yang itu, pokoklah itulah. (#gakmauspoiler #pelit #makanyabaca).
Di part penghujung, anda harus siap untuk berusaha memahami 3 peran dan perkerjaan dari peran itu masing-masing. Belum lagi tentang penjelasan akan peran si Alfa akan sebuah "dunia" namun bukan dunia, yang terlalu... dibuat rumit dengan terlalu... terlalu... entahlah seperti berusaha dibuat se-misterius dan se-gak bisa ditebak mungkin oleh pembaca.
Mungkin plot dari buku ini memang mengikuti tema judulnya, Gelombang, sesuatu yang merambat, bergerak dang mengalir. Namun sayangnya aliran plotnya malah bisa dibilang terlalu lemah, terlalu lemah untuk mengiringi si karakter yang seharusnya semakin lama semakin menguat. Belum lagi beberapa hal yang bisa dibilang terlalu ajaib seperti hidup bertahun-tahun secara ilegal (dan sebagai pelajar!!!) di US yang rada bikin pembaca pasti nyinyir atau atleast membatin "Yakaliiiii!" Dan karakter-karakter kanan-kiri yang terlalu banyak... aduh serius deh... kayak kehadirannya itu kalau ditiadakan pun kayaknya gak ngaruh deh.
Kalau saya bandingkan dengan pendahulunya yang maha agung (dan favorite w beud!), Partikel. Gelombang bisa saya analogikan dengan topik yang lagi hot belakangan ; Pilkada langsung ditiadakan, yang menjadi isu besar karena menunjukan kemunduran demokrasi negeri, nah seperti itulah... Gak tega ke Ibu Suri, tapi kudu jujur soalnya saya gak mau Inteligensi Embun Pagi kelak mengecewakan seperti ini :"(
Tapi, bukan artinya Gelombang adalah produk gagal, it's still awesme and worth to read!
Mungkin kalau kamu seorang penggemar berat (benar-benar berat) karya Dee terutama Supernova series kamu pasti faham "rasa" itu, hiks.
Mungkin karena waktu pengerjaan yang tak menahun sehingga yah terlihat rada sketchy overall. Yah mungkin...
Tetapi rasa salut dan bangga saya kepada sosok penulis, Mbak Dewi Lestari, dengan waktu yang bisa dibilang lumayan singkat, beliau mampu mengolah semua sumber dan sistem dengan efisien untuk menghasilkan Gelombang. Setahun men! Setahun! Setahun dan bisa memproduksi sebuah buku plus research sana-sini itu pastilah gak gampang. Dan kedewasaan gaya tulisan beliau yang semakin lama semakin mantap bisa diacungi jempol.
Overall, Gelombang memanglah bagus dan apik, namun tak cukup apik untuk memuaskan nafsu para fans yang sudah menunggu dan menaruh harapan tinggi.
Terlalu banyak yang menggantung, terlalu banyak tanda tanya. Tergantung kamu saja sebagaimana kamu meresapi ini semua, toh setiap orang lagi-lagi punya sudut pandang unik dan
berbeda. Mungkin beberapa orang sudah puas akan penantian mereka, sayang saya gak mudah puas :')
Bagi saya ini bukanlah hal serius yang dapat membuat saya terus bertanya-tanya, menerka-nerka. Gelombang untuk saya mungkin lebih cocok dijadikan teman duduk santai sore sambil minum kopi ketimbang jadi bahan diskusi.
Salam hangat.
Okay lupakan, basa-basi busuk diatas. Di post kali ini saya cuma mau review satu buku, buku yang saya tunggu-tunggu banget kehadirannya semenjak bertahun lalu tepatnya setelah selesai membaca buku terakhir dari seriesnya yaitu : Gelombang oleh Dewi Lestari. #jrengjreng
Belum sampai seminggu umurnya tapi udah kucel,
ketauan deh w joyokk :'>
Sebagai seorang fan, Gelombang bak anak seorang raja nan agung yang dinanti-nanti kelahirannya dan diharapkan kelak bakal sehebat bahkan lebih hebat daripada pendahulunya.
Waktu Ibu Suri a.k.a Dee a.k.a Dewi Lestari mulai ngasih #kode tentang pembuatan Gelombang di instagram beliau sekitaran setahun lalu, saya excited bukan main. Menebak-nebak dan bertanya-tanya siang-malam (agak lebay) tentang buku lanjutan seri Supernova ini. Spoiler-spoiler dari feed instagram beliau membuat saya makin bernafsu menebak-nebak tentang apakah si Gelombang ini, apakah tentang telepati, lucid dreaming, anak indigo, manusia anti-gravitasi, pengendali air ataukah tentang benda-benda kimiawi yang sedap diemut #eh
Sampai akhirnya Gelombang resmi lahir dan bisa diraih di toko buku terdekat pada 17 Oktober 2014. Saat itu saya sedang bervakansi di luar kota dan memang rencananya akan membaca setelah pulang kerumah agar makin berasa kualiti time bersama "dedek baru" ini.
Dan dalam waktu kurang dari 48 jam selesai saya lahap dia sampai habis, berusaha menyerap sebaik mungkin dan akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah review.
Yok, mulai!
(note : Ini sinopsis apalagi spoiler. Ini murni opini pribadi seorang Karina. Mau tau ceritanya? Beli dan baca sendiri!)
Buku ini pada dasarnya adalah kehidupan misterius penuh tanda tanya dari tokoh utama, Alfa yang merupakan hasil re-branding dari seorang Ichon. Dan sedikit cerita lama yang tak kunjung usai yaitu kisah Gio yang masih berusaha mencari Diva.
Nah balik ke kisah utama. Karakter Alfa, si cowok Batak yang digambarkan sebagai hotstuff from East, menurut saya entah mengapa perjalan hidupnya nampak terlalu mudah dan lempeng-lempeng saja, tidak se-struggle para pratagonis dari buku-buku sebelumnya. Namun bukan berarti saya jadi pesimis saat bacanya, cerita hidup beliau yang rada nyentrik dan misterius itu yang membuat bertanya-tanya dan gak rela untuk melepas buku itu dari bawah hidung saya.
Kehadiran Si Jaga Portibi sebagai penjaga Alfa dan hubungannya dengan kekuatan tersembunyi yang dimilikinya membuat saya berfikir keras sampai dan membuka laci memori tentang empat buku pendahulu, apakah pernah disebut-sebut, apakah pernah disinggung-singgung sebelumnya.
Dan sampailah saya dipertengahan buku, saat Alfa hijrah ke Jakarta lalu Amerika, di momen itu bisa saya bilang agak menjemukan dan terulur terlalu panjang sehingga saya sempat merasa sedikit ummm... bosan. Tapi, tapi, tapi gak lama kemudian muncul sosok mbak-mbak urban, nampak mapan dan seksi bernama Ishtar muncul dan membawa cinta, nestapa dan tanda tanya besar kepada hidup Alfa dan juga para pembaca. Dan disinilah grafik semangat membaca langsung naik drastis. Cerita pun makin fokus ketujuan dan beberapa karakter baru yang cukup kuat dan punya peran besar muncul (karena ada banyak karakter kurang penting yang cuma bikin plotnya semakin gemuk dan rada bertele-tele) dan menemani Alfa memecah teka-teki besar tentang masalahnya dan dirinya sendiri.
Benarlah akhirnya, ujung-ujung saya pun terpaksa mengingat kembali apa yang terjadi dari buku-buku terdahulu, yaitu buku pertama dan kedua. Karena mereka disebut-sebut disana, karena katanya mereka memang terhubung satu sama lain (yaiyalah.. makanya jadi series). Sampai saya tiba disatu titik, nyaris diujung buku, dimana terpampang semua penjelasan akan masalah si Alfa, siapa dia, mengapa dia begitu, apa itu yang itu, lalu apa hubungannya sama yang itu, pokoklah itulah. (#gakmauspoiler #pelit #makanyabaca).
Di part penghujung, anda harus siap untuk berusaha memahami 3 peran dan perkerjaan dari peran itu masing-masing. Belum lagi tentang penjelasan akan peran si Alfa akan sebuah "dunia" namun bukan dunia, yang terlalu... dibuat rumit dengan terlalu... terlalu... entahlah seperti berusaha dibuat se-misterius dan se-gak bisa ditebak mungkin oleh pembaca.
Mungkin plot dari buku ini memang mengikuti tema judulnya, Gelombang, sesuatu yang merambat, bergerak dang mengalir. Namun sayangnya aliran plotnya malah bisa dibilang terlalu lemah, terlalu lemah untuk mengiringi si karakter yang seharusnya semakin lama semakin menguat. Belum lagi beberapa hal yang bisa dibilang terlalu ajaib seperti hidup bertahun-tahun secara ilegal (dan sebagai pelajar!!!) di US yang rada bikin pembaca pasti nyinyir atau atleast membatin "Yakaliiiii!" Dan karakter-karakter kanan-kiri yang terlalu banyak... aduh serius deh... kayak kehadirannya itu kalau ditiadakan pun kayaknya gak ngaruh deh.
Kalau saya bandingkan dengan pendahulunya yang maha agung (dan favorite w beud!), Partikel. Gelombang bisa saya analogikan dengan topik yang lagi hot belakangan ; Pilkada langsung ditiadakan, yang menjadi isu besar karena menunjukan kemunduran demokrasi negeri, nah seperti itulah... Gak tega ke Ibu Suri, tapi kudu jujur soalnya saya gak mau Inteligensi Embun Pagi kelak mengecewakan seperti ini :"(
Tapi, bukan artinya Gelombang adalah produk gagal, it's still awesme and worth to read!
Mungkin kalau kamu seorang penggemar berat (benar-benar berat) karya Dee terutama Supernova series kamu pasti faham "rasa" itu, hiks.
Mungkin karena waktu pengerjaan yang tak menahun sehingga yah terlihat rada sketchy overall. Yah mungkin...
Tetapi rasa salut dan bangga saya kepada sosok penulis, Mbak Dewi Lestari, dengan waktu yang bisa dibilang lumayan singkat, beliau mampu mengolah semua sumber dan sistem dengan efisien untuk menghasilkan Gelombang. Setahun men! Setahun! Setahun dan bisa memproduksi sebuah buku plus research sana-sini itu pastilah gak gampang. Dan kedewasaan gaya tulisan beliau yang semakin lama semakin mantap bisa diacungi jempol.
Overall, Gelombang memanglah bagus dan apik, namun tak cukup apik untuk memuaskan nafsu para fans yang sudah menunggu dan menaruh harapan tinggi.
Terlalu banyak yang menggantung, terlalu banyak tanda tanya. Tergantung kamu saja sebagaimana kamu meresapi ini semua, toh setiap orang lagi-lagi punya sudut pandang unik dan
berbeda. Mungkin beberapa orang sudah puas akan penantian mereka, sayang saya gak mudah puas :')
Bagi saya ini bukanlah hal serius yang dapat membuat saya terus bertanya-tanya, menerka-nerka. Gelombang untuk saya mungkin lebih cocok dijadikan teman duduk santai sore sambil minum kopi ketimbang jadi bahan diskusi.
Salam hangat.
8/17/2014
69
Merah putih berkibar agung, keberanian dan kesucian dipampang nyata.
Tua-muda bergembira, para tetangga pun ikut bersuka cita.
Yang gugur maupun yang hidup telah menemukan kebebasannya.
Hari lahirnya bangsa Indonesia.
Nusa dan bangsaku tlah merdeka!
69 tahun berlalu.
Semangat kuno itu masih ada walau kadang bertarung melawan hanyut waktu.
Sejarah panjang itu masih tertulis dan tertanam di nurani-nurani yang baru.
Walau muncul luka-luka baru yang terus menerjang dan terus menderu.
Terus kau merangkak keatas meraih posisi nomor satu.
Sekarang aku sedang tak disana disaat ulang tahunnya.
Aku tak begitu jauh, cuma sedang di negeri tetangga. Tapi bukan main pilunya rindu mendera.
Biasanya pukul 8 atau 9 pagi aku berdiri berbaris mengikuti upacara hari lahirnya.
Biasanya mataku dipenuhi warna putih dan merah keseluruh penjuru negeri.
Biasanya antusiasme itu begitu terasa, mempengaruhi semua indera.
Aku tak begitu jauh, cuma sedang di negeri tetangga. Tapi aku melewatkan semua antusiasmenya
Terpujilah yang bertempur mati-matian demimu.
Doakanlah mereka yang hidup-mati menjagamu.
Sanjungilah mereka yang bercita-cinta mendorongmu maju.
Dan terkutuklah mereka yang berusaha menghancurkan megahmu.
Koruptor, politik kotor, pejabat tak berhati, dan sekutunya yang busuk itu.
Kudoakan mereka makin cepat mati lalu membusuk terkubur nista dan busuk dalam tanahmu.
Aku satu diantara dua ratus lima puluh juta.
Aku cinta padamu sepenuh jiwa.
Selamat ulang tahun Indonesia.
Semoga kau tetap dan akan selalu jaya selamanya.
7/21/2014
21
Dan enam hari yang lalu saya akhirnya menginjak usia 21 tahun. Rasanya baru kemaren tiup lilin angka 17 loh, cepet banget ya.
Umur 21 itu sudah dianggap kategori dewasa, sedangkan saya merasa belum pantas dipanggil orang dewasa. Saya bingung bagaimana jadi dewasa itu dan akhirnya saya gak minta harapan/permintaan/wishes yang terlalu spesifik sama YME buat tahun ini dan kedepannya bertujuan untuk men-dewasa-kan diri sendiri.
Dari situ untuk 21 tahun ini, saya buat 21 goals yang saya targetkan HARUS saya capai sebelum saya menyentuh umur 26. Umur dimana saya berjanji untuk memantapkan diri berstatus "siap menikah" (entah bakal dengan siapa deh yang penting siap) dan itu 5 tahun lagi.
So, inilah 21 goals yang kudu banget bin wajib ain saya checlistkan semua sebelum saya menyentuh umur 26 tahun. (list acak, semuanya adalah prioritas)
1. NAIK GUNUNG
2. BELAJAR DAN MENDAPATKAN SERTIFIKAT DIVING
3. MENGUNJUNGI SEMUA NEGARA DI ASIA TENGGARA
4. BELAJAR MENG-FLEKSIBEL-KAN DIRI (bisa kayang, sikap lilin, yoga, etc)
5. NAIK KAPAL PESIAR
6. IKUTAN INDONESIA MENGAJAR (lulus seleksi atau enggaknya itu urusan nanti)
6. IKUTAN INDONESIA MENGAJAR (lulus seleksi atau enggaknya itu urusan nanti)
7. MENCAPAI BERAT BADAN IDEAL
8. AKTIF BERPARTISIPASI KEDALAM ORGANISASI SOSIAL DAN LINGKUNGAN
9. DAPET DUIT DARI NGEJUAL MODEL 3D MODEL ONLINE (turbosquid, cgtrader, etc)
10. IKUTAN WARALABA/FRANCHISE
11. BISA KUAT JOGGING 5KM NON-STOP
12. BISA BELI MOBIL PAKE DUIT SENDIRI
13. MENGUNJUNGI SEMUA PROVINSI DI PULAU SUMATERA, JAWA DAN KALIMATAN
14. SELESAI MEMBACA MINIMAL 60 BUKU LITERATUR
15. SUKSES MELEPASKAN KETERGANTUNGAN PADA NASI PUTIH
16. MENULIS SEBUAH BUKU (terserah deh bisa dipublikasikan atau kagak, yang penting jadi)
17. NONTON KONSER BIGBANG, 2NE1 & SNSD
18. ROADTOUR KECE JAWA-BALI-LOMBOK
19. JADI GURU/NGAJAR
20. KHATAM AL-QUR'AN LAGI
21. KE DISNEYLAND! (yang dimana aja, terserah. at least pernah pergi sekali)
Sekian.
Semoga tercapai.
Nanti saya kabari lagi.
Wassalam.
14. SELESAI MEMBACA MINIMAL 60 BUKU LITERATUR
15. SUKSES MELEPASKAN KETERGANTUNGAN PADA NASI PUTIH
16. MENULIS SEBUAH BUKU (terserah deh bisa dipublikasikan atau kagak, yang penting jadi)
17. NONTON KONSER BIGBANG, 2NE1 & SNSD
18. ROADTOUR KECE JAWA-BALI-LOMBOK
19. JADI GURU/NGAJAR
20. KHATAM AL-QUR'AN LAGI
21. KE DISNEYLAND! (yang dimana aja, terserah. at least pernah pergi sekali)
Sekian.
Semoga tercapai.
Nanti saya kabari lagi.
Wassalam.
Subscribe to:
Posts (Atom)







