7/08/2014

Pilpres 2014

Pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden a.k.a pemilu pilpres di Malaysia diadain hari Sabtu ini, 5 Juli 2014. Lebih cepet 4 hari dari pemilu di tanah air.
Akhirnya saudara-saudaraaa, sebagai warga negara yang sudah cukup umur dan terdaftar secara legal saya mendapatkan juga kesempatan merasakan sensasi nyoblos gitu. Men, super excited to de maxx!

Jadilah kalau pemilu di luar negeri, para WNI pastinya punya kesempatan nyoblos juga. Gak kayak di Indonesia gitu ada TPS dimana-mana, pilihan kami sedikit, harus ke KBRI atau gak via pos. Nah kebetulan di Malaysia juga menerapkan sistem seperti itu, cuma ada dua TPSnya yaitu di KBRI sama di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

Karena pernah trauma denga kejadian tak menyenangkan dalam mengantri di KBRI (waktu itu mau memperpanjang passport) jadi saya dan teman-teman memutuskan untuk datang pagi buat menghindari antrian.
Eh taunya nyampe KBRI ternyata gak ada antrian sama sekali dan semua prosesnya sangat-amat-cepat!!! Pokoknya totalnya dari pendaftaran, pengambilan kertas suara, nyoblos dibilik suara dan nyelupin jari ke tinta semuanya kurang dari 10 menit, YA 10 MENIT KURANG!!!!
Bener-bener ringkas, cepat, sistematis dan teratur!!! Salute banget buat panitianya.

Keempat bapak-bapak ini terlihat kiclong sentausa di foto kertas suara.

Itu penampakan surat suaranya, alhamdulillah gak ada foto satu calon pun yang hilang kayak isu yang beredar diluar sana.
Degdegan banget waktu udah dapet ni kertas suara. Pas dibuka langsung dikasih senyum 4 bapak-bapak ini seakan mereka berkata "Pilih kami Karina!!!", "Jangan ah, pilih kami aja!!!", "Nanti gaji pekerja dibidangmu kami naikin!!!", "Nanti Bogor - airport Soekarno Hatta kami bangun shinkansen khusus buat kamu!!!". Imajinasi liar, nervous dan ditambah lagi lagi lapar-laparnya bisa menimbulkan fatamorgana yang gak jelas.
Trus pas bagian nyoblosnya saya bingung nyoblos dimana, karena nanti sayang kalau muka calon yang saya pilih jadi rusak yaudah saya coblos nomornya aja. Tak lupa diiringi basmallah dan tercobloslah nomornya itu. Cepat-cepat saya lipat kembali dan masukin ke kotak suara. Ditambah lagi mas-mas dan mbak-mbak panitianya macam memerhatikan gerak-gerik para pencoblos (atau gue aja yang GR) yaudah saya putuskan cepat-cepat kearah meja tinta biru dan mencelupkan dengan_terlalu_semangat jari kelingking saya.
Dan TADAAAAAAA!!! Maka selesailah seluruh prosesi pemilu pertama dalam hidup saya itu. Menyenangkannn :')

Dan tak lupa foto-foto dengan kelingkin biru :3

Demikianlah cerita singkat pemilu saya yang duluan mendahului agan-agan di Indonesia. Mungkin karena pertama kalinya makanya sangat-teramat excited heuheuheu..

Tapi part yang paling saya enjoy overall gak cuma hari-H pemilu itu doang, tapi keseluruhannya dari awal, semenjak pemilu legislatif April lalu selesai terutama.
Saya bener-bener merasa anak bangsa Indonesia sepenuhnya dimana saya mendapat kesempatan bersuara dan menentukan pilihan masing-masing sesuai hati nurani kita. Gak semua orang warga negara lain punya kesempatan kayak kita untuk merayakan kebebasan bersuara, kita rakyat Indonesia itu sangat beruntung tau :))
Perjalanan menentukan pilihan itu sendiri sangatlah menantang dan penuh pasang surut. Saya berusaha menggunakan mindset yang objektif dan logis tapi tetap netral untuk mencerna semua sumber-sumber yang saya dengar, lihat dan baca. Karena itulah panggung politik, penuh sandiwara, jangan lihat cuma dari satu prespektif saja.
Dari galau-galauan mau milih yang mana, kenapa milih yang ini, kenapa bukan yang itu dan banyak tanda tanya lainnya sampai akhirnya pilihan saya jatuh di nomor 2 tapi saya masih berusaha utuk menatap positif dan menghargai pasangan nomor 1 dan pendukung-pendukung beliau. Berusaha walaupun saya punya pilihan namun masih berdiri di garis netral.

Jujur saya sangat bangga dan bahagia bisa ambil bagian dari pemilu presiden kali ini. Setiap momen seperti ngebacaiin link-link yang baik sampai yang tingkat sesat, nontonin debat presiden tiap minggunya, ngekepoin timeline para pendukung 1 dan 2, sampai percakapan "sok tau" tentang pemilu saya dan teman-teman saya dikala makan hampir setiap hari. I embraced that moments.
Saya harap siapa pun yang bakal jadi RI 1 dan RI 2 periode 2014-2019 ini bisa membawa bangsa saya menjadi lebih baik, jauh lebih baik kalau bisa bahkan jadi yang terbaik.
Dan saya, sebagai salah satu pemudi Indonesia berjanji akan selalu berusaha ikut serta dalam pembangunan bangsa.
Merdeka!!!

6/16/2014

Balikpapan

1999
Bagaimana saya bisa lupa kali pertama saya menginjakkan kaki di kota kecil itu. Kala itu saya masih berumur 7 tahun dan masih berdomisili di Pontianak, Kalimantan Barat. Waktu itu, kali pertama orangtua saya membawa saya dan adik saya ke tanah kelahiran Papa saya di Sulawesi Selatan buat merayakan lebaran.
Yah tau deh jalur penerbangan transportasi udara di Indonesia belum terlalu luas jangkauannya pada tahun segitu, dikit-dikit mesti transit dulu karena belum tersedia penerbangan langsung. Jadilah dari Pontianak ke Makassar kami harus transit dulu di Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada saat itu juga jadwal penerbangan tidak sefleksibel sekarang, mau gak mau kami harus terpaksa harus menginap di kota Balikpapan dan melanjutkan perjalanan ke Makassar keesokan harinya.
Pertama kali sampai di Balikapan, saya inget banget saya suka sekali bagian langit-langit atapnya yang penuh ukiran kayu dan lampu gantung yang besar-besar seperti di bandara Soekarno Hatta. Kami menginap disebuah hotel di pusat kota, kamar saya berada di lantai yang cukup tinggi jadi bisa melihat pemandangan jalanan dari jendela kamar. Saya inget sekali didepan jendela hotel saya itu mall, terus dibelakang mall-nya laut lepas. Cantik sekali. Malamnya saya laper sekali tapi saya merengek gamau makan makanan hotel. Akhirnya Mama saya membawa saya keluar hotel, berjalan sedikit dan ternyata tepat disebelah hotel itu KFC, sumringah lah saya. Besok paginya kami sudah berangkat kembali ke airport menuju tujuan sebenarnya, Makassar. Saya sedih meninggalkan langit-langit atap penuh ukiran di airport itu dan bau asin air lautnya.

- - -

2005
Setelah pindah dari Kalimantan Barat dan menetap setahun di Bogor, Papa saya dimutasi ke Balikpapan. Saya yang kala itu baru lulus SD dan bakal calon jadi anak SMP merasa gelisah karena bakal pindah lagi ke tempat baru.
Dan akhirnya, saya kembali ke Balikpapan. Kota kecil yang dulu sempat mencuri hati saya dengan bau asin lautnya. Saya melanjutkan studi di SMPN 7 Balikpapan, sekolah SMP serba sederhana dengan kontur sekolah yang unik ; berbukit-bukit, menanjak disana-sini, tangga dimana-mana. Itulah SMP yang paling dekat dengan rumah saya kala itu di asrama polisi yang bagian belakangnya pantai.

- - -

2006 - 2007
Papa saya dimutasi ke kota kecil di bagian utara Kalimantan Timur, kota kecil ini terletak do Kabupaten Bulungan. Saya cari di peta yang tergantung di ruang kelas, tidak ada. Saya buka atlas saya halaman provinsi Kalimantan Timur, tidak ada. Saya panik, takut dan malas kalau memang harus masuk hutan lagi. Dan benar bisa 2 tahun kala itu saya 'masuk hutan', meninggalkan peradaban. Tanjung Selor nama kotanya, pusat kotanya terletak di sepanjang Sungai Kayan. Kotanya super duper mungil dan sederhana dan apa-adanya. 2 tahun saya tinggal disana, bagai bertapa karena buta akan dunia luar, hidup nyaman dikelilingi teman-teman tipikal anak daerah yang sangat kekeluargaan dab bahagia walaupun ketinggalan jauh dalam segala hal.

- - -

2007 - 2011
Kembali ke Balikpapan, meski Papa sempat di pindahkan lagi ke ibukota Kalimantan Timur yaitu Samarinda tapi orangtua saya memutuskan kalau anak-anaknya lebih baik ditinggal saja di Balikpapan dengan alasan kwalitas pendidikan yang lebih baik dan jarak tempuh Samarinda - Balikpapan yang masih rasional untuk bolak-balik seminggu 2 kali.
Akhirnya saya lulus SMP dan bersiap bertarung ke jenjang berikutnya, masuklah saya me SMAN 1 Balikpapan a.k.a Smansa Balikpapan. Sekolah yang idaman dan juara piala adiwiyata. 3 tahun masa SMA saya adalah 3 tahun terbaik selama hidup saya. Dan selama 3 tahun itu juga saya jatuh cinta terlalu dalam kepada kota Balikpapan. Bukan cuma udara asin lautnya atau ukiran di atap bandaranya, tapi juga manusia-manusianya, jalannya, makanannya, pasar-pasarnya, bahasa slangnya, ikan bakarnya, tata kotanya dan lainnya.

Balikpapan bukan hutan doang, sob.

Kota yang memajang disepanjang bibir pantai.

Lampion-lampion iconic di jalanan depan komplek rumah.

Nungguin sunset sambil keliling-keliling nyari angin.

Jalan-jalan sore didekat Lapangan Merdeka, memburu salome. (salome : bola-bola tepung seukuran bakso kecil kalau di jawa biasanya disebut pentol)

Almamater terketje, Smansa Balikpapan.

Sayang sekarang saya dan keluarga udah gak berdomisili di kota mungil ini, so saya gak ada chance buat berkunjung kesana lagi kecuali emang "niat" banget. Kalau kangen sama Tanjung Selor untuk merealisasikan pergi kesana aja udah agak mustahil (jauh men, jauh) jadi kalau kangen saya simpen aja dalem hati tapi khusus buat kota Balikpapan kalau udah kangen banget hati rasanya kayak diperes-peres, diiris-iris terus ditumpahin air jeruk nipis, pedih shayyyy :")
Dan sekarang, saya officially super rindu banget dengan kota bermaskot super unyu ; beruang madu.

6/08/2014

Pilih siapa?

Belakangan ini saya sering banget dapat pertanyaan "Jadi, pilpres kali ini pilih siapa?" dan saya juga bertanya kepada banyak orang (yang sesama WNI) tentang hal yang sama.
Yes, acara 5 tahun sekali ini memang acara yang paling ditunggu-tunggu. Pesta demokrasi ; kampanye sampai ujung negeri, melihat manusia panggung politik beraksi dan hiruk pikuk tebar janji-janji.

Indonesia Box Office 2014 : Prabowo vs Jokowi

Dan tahun ini untuk pertama kalinya saya mendapatkan hak pilih, man akhirnya man!
Sayang sekali pemilu legislatif kemaren saya gak bisa memberikan hak pilih karena saya lagi terbang balik sebentar ke Bogor sedangkan saya harusnya nyoblos di KBRI Kuala Lumpur. 
Semoga pilpres Juli ini gak ada hambatan sama sekali jadi saya bisa menggunakan hak saya sebagai warga negara Indonesia for the first time in forevaaaa~

Nah soal pilih siapa itu, saya mau sedikit mencurah isi hati saya nih #azek
Beberapa minggu belakangan saya keranjingan nanyain "Pemilu nanti pilih siapa?" ke WNI yang berada di sekitar saya baik itu teman sekampus ataupun mbak-mbak TKW ataupun supir taksi yang awalnya misterius tapi ternyata orang Indonesia yang lama menetap disini. Berikut ini saya rangkumin sedikit hasil wawancara terselubung dan ringkas saya.
(nama asli mereka saya samarkan, percakapan asli tidak dibuat-buat dan diubah oleh saya termasuk part basa-basinya)

1. Bapak Delivery Makanan 1 (BDM1)
Karin : "Bapak ntar pemilu milih?"
BDM1 : "Iya dek, nanti bapak ke KBRI tanggal 5 Juli."
Karin : "Hahahaha, antusias yah Pak. Saya juga pertama kali milih nih."
BDM 1 : "Wahwah, jadi milih siapa ntar? Jokowi atau Prabowo."
Karin : "Gatau nih Pak masih galau (bohong, maaf Pak..) Bapak sendiri milih siapa nih?"
BDM1 : "Saya milih Jokowi lah dek, teman sekampung gitu."
Karin : "Oh Bapak dari Solo juga toh. Jadi gara-gara teman sekampung Pak makanya dipilih?"
BDM1 : "Yah enggak lah. Pak Jokowi itu saya yakin bisa bikin Indonesia lebih baik lagi. Lihat Solo aja jadi begitu, maju dan bagus. Saya aja yang lama gak pulang pas lihat Solo yang sekarang ini jadi kaget dan takjub."
Karin : "Iya sih Pak, Solo sekarang cantik dan tertata. Jakarta juga mulai ada sedikit perbaikan yang lumayan pas Pak Jokowi jadi gubernur."
BDM1 : "Yaudah nanti kamu pilih Jokowi aja yah Rin. Jangan Prabowo ah, serem dan abisius."

2. Mbak-mbak jualan waffle di stasiun LRT
Karin : "Mbak orang mana?"
Si Mbak : "Saya orang Kediri dek. Adek, Indonesia juga? Jakarta?"
Karin : "Saya domisilinya Bogor, Mbak."
Si Mbak : "Ah orang Bogor toh. Ipar saya orang Bogor loh. Kamu udah kerja?"
Karin : "Enggak Mbak, saya lagi magang aja kebetulan kantornya deket sini."
Si Mbak : "Ohhh, magang yah." (Si Mbak mulai gak fokus karena sibuk bikin waffle pesanan saya)
Karin : "Eh Mbak nanti pemilu presiden milih siapa?"
Si Mbak : "Aduh pilih siapa ya... Jujur Mbak masih gatau mau milih siapa dek, belum ada bayangan. Tapi kayaknya Mbak milih Jokowi aja deh, nanti takutnya kalau Prabowo jadi presiden takutnya dia ngajak perang Malaysia. Ntar kalau perang nasib pekerja kayak Mbak gimana dong dek."
Karin : (cuma bisa bales dengan ketawa, Mbak ini terlalu naif :'3)
Si Mbak : "Tapi belum tau juga sih siapa ya, abis Jokowi juga bentukannya lesu gitu."

3. Abang-abang langganan sewa mobil
Karin : "Bang, pemilu milih siapa Bang?"
Si Abang : "Prabowo dong. Tegas. Orang Indonesia yang sekarang butuh pemimpin yang tegas."
Karin : "Oh Prabowo jagoannya toh. Emang kalau Jokowi kenapa Bang?"
Si Abang : "Halah itu lagi, Jokowi itu gak tegas. Dia itu dipaksa aja jadi presiden, paling nanti jadi presiden boneka dia."
Karin : "Tapi kan calon wakilnya Pak JK, Pak JK kan orangnya tegas tuh Bang."
Si Abang : "Itu lagi si JK, kalau dia naik nanti sudah pastilah dia korupsi lagi. Dulu jama SBY dia itu korupsi banyak makanya bisa kaya macam itu." (entah ini gosip darimana)
Karin : "Hahahaha sotoy lo Bang. Gapernah aku nonton berita Pak JK kedapetan korupsi."
Si Abang : " Pastilah dia korupsi tuh. Udah lah Prabowo aja jadi presiden, pasti negara aman. Macam jaman Soeharto dulu."

4. Bapak Delivery Makanan 2 (BDM2)
BDM2 : "Karin nanti pemilu milih siapa?"
Karin : "Hmmmm rahasia dong pak, bapak sendiri milih siapa?"
BDM2 : "Jokowi dong, nomor dua!" (dengan gesture tangan angka dua diangkat dengan wajah antusias)
Karin : "Asik, mantep kali Pak. Emang kenapa Pak milih Jokowi?"
BDM2 : "Kalau presidennya seperti Pak Jokowi pastilah suara rakyat kecil lebih didengar. Lihat aja Jokowi di Jakarta waktu banjir, dia ikut turun lihat para korban."
Karin : "Iya itu sisi positifnya Pak Jokowi. Udah langsung blusukan terus dia gamau dijaga ketat berlebihan kayak pejabat negara lain ya Pak.
BDM2 : "Presiden kan bisa dibilang tugasnya melayani masyarakat negeri yang dipimpinnya juga. Kalau yang melayani maunya diatas melulu gamau turun ke lokasi langsung yah namanya itu sih obral janji aja. Saya lihat sih kalau Jokowi tidak begitu orangnya."

5. Pakcik taksi yang keturunan Indonesia (perantauan Madura generasi ke 3) dan masih suka nontonin berita Indonesia <percakapan ini mix bahasa Indo dan Malay>
PakcikTaksi : "Kamu orang Indonesia kan? July ini ikut pemilu lah ya? Di embassy bukan?"
Karin : "Iya Pakcik nanti saya ikut pemilu juga. Tak pasti pun venue-nya di embassy atau dimana, saya belum ada check lagi."
PakcikTaksi : "Pakcik memang orang sini dah tapi masih sering nonton berita. Taulah Pakcik siapa itu Jokowi siapa itu Prabowo tuh."
Karin : "Wah, serius Pakcik masih uptodate berita Indo?! (langsung excited) Jadi kalau begitu menurt Pakcik siapa yang lebih fit jadi presiden Indonesia?"
PakcikTaksi : "Siapa pun lah, kedua pasang itu mesti yang terbaik dari semua. Asal dia jadi leader yang jujur dan tak korupsi, it's fine. Dan bila pemilunya berjalan jujur dan bersih pun itu pun lebih baik." (Pakcik ini menyinggung tentang kecurangan pemilu yang pernah terjadi di negara beliau ini)
Karin : "Ah betul sekali Pakcik! Memang seharusnya harus transparan dan bersih dan juga bebas koruptor."
PakcikTaksi : "Nanti kamu pilihlah siapa yang jadi favorite kamu. Dan siapa pun yang menang kamu doakan saja dia akan jadi yang terbaik buat jadi presiden Indonesia. Indonesia harus maju. Yang Indonesia maju juga kalian kalian ini lah, yang masih muda."

Nah itulah chit-chat ringan saya dengan beberapa orang WNI dan satu WNA yang masih ke-WNI-WNI-an tentang "pilih siapa?"
Sekali lagi saya gak bermaksud untuk menyanjung atau menjelekkan pihak tertentu apalagi kampanye hitam atau nama bekennya blackcampaign. Semuanya diatas cumalah kisah singkat dan opini masing-masing individu yang harus kita hargai.

Kedua pasang calon yang maju itu tidaklah sempurna, semuanya punya kekurangan dibalik kelebihan luar biasa mereka. Tugas kita yang benar bukanlah menggembar-gemborkan lalu mencerca kekurangannya, lebih baik kita menyanjungkan kelebihan dan prestasinya.
Contohnya gini, misalnya saya adalah pendukung pasangan ABC yang sebaiknya saya lakukan adalah menyebarkan keorang lain tentang kelebihan dan kebaikan pasangan ABC jagoan saya ini dibandingkan saya malah menyebar cerita kurang baik tentang kelemahan pasangan DFG (lawan). Apalagi kalau cerita itu tidak benar alias fitnah semata? Kan kita tahu betul kalau fitnah itu lebih kejam daripada membunuh.
Apalagi dimasa sekarang ini, dimana teknologi sudah maju, apa-apa tinggal share di facebook apa-apa tinggal tweet saja. Menolong sometimes, menyesatkan lots of time. Menyingkapi hal ini kita sepatutnya mesti kritis dan cerdas kepada apa yang kita dengar dan baca, siapa sumbernya dan bagaimana kebenarannya. Jangan sembarang hanyut saja dalam arus media mainstream broh!

Nah kembali ke "Jadi, pilpres kali ini pilih siapa?"
Saya mendukung dan memilih yang ini :)


Kenapa Jokowi-JK? 
Karena menurut saya prestasi lebih penting dari pada visi misi. 
Berdua ini sudah punya bukti, bukan cuma cuma janji. 
Dan ini adalah pilihan hati, bukan dari godaan kanan-kiri.

Bismillah untuk Indonesia yang lebih hebat!!!


Ciao!





Note :
Buat temen-temen yang domisili di Malaysia dan yang belum registrasi buat jadi peserta pemilu, sok atuh check disini --> http://ppln.kbrikl.org/
Jangan lupa ya! Gunakan hak pilih kamu buat Indonesia yang lebih baik :)
Hari gini golput, please deeeehhhh!!! Cupu lo kalau golput!!!
Ingatlah pemuda-pemudi Indonesia kita teh kudu : kritis, cerdas dan optimis + love, peace en gaul!

5/03/2014

kenapa Karin?

Saya sering mikirin sesuatu hal yang kadang sebenarnya gausah dipikirin muluk-muluk.
Hal-hal yang terlalu sepele untuk dipertanyakan dan kalau dikemukakakan/ditanyakan kepada orang lain juga pasti ga ada yang bisa jawab atau bahkan reaksinya "Apaan sih lo mikirin begituan.."
Salah satunya bagaimana sebuah nama itu tercipta. Misalnya kenapa orang sebut kursi itu 'kursi', tapi orang bule nyebutnya 'chair'. Apa sih yang menginspirasi mereka menyebut benda itu sebagai 'kursi'. Terus itu siapa yang pertama kali mendeklarasikan kalau itu namanya 'kursi'. Nah loh, pasti penasaran!!!
Ya mungkin kita gak pernah dapat jawabannya untuk itu semua dan seperti apa kata guru agama di sekolah dulu, "Janganlah kita berfikir melampaui Tuhan." #camkanitu

Sekarang kembali ke soal per-nama-an lagi dan sekarang tentang nama sendiri.
Saya ingat dulu pas TK pernah bercakap-cakap dengan teman-teman saya tentang terciptanya nama barang-barang yang tak kunjung diketahui asal-usulnya dan akhirnya kami berdiskusi dan berkomentar tentang nama masing-masing. Sekiranya percakapan itu seperti ini :

(istirahat pagi sambil nyemilin coklat payung)

Wulan     : "Kalo aku denger nama kamu aku jadi ingat sepeda loh!" (Wulan kepada Ika)
Ika           : "Loh, kok sepeda sih?" (complain ke Wulan)
Devi        : "Kalau aku malah menurutku kalo denger namanya Ika aku inget bunga kembang sepatu."
Wulan     : "Yang ada di khayalanku namanya Devi itu berhubungan denga sepeda yang ada keranjangnya."
Saya        : "Eh, aku setuju kalau namanya Ika agak ke arah kembang sepatu!"
Ika           : "Kalau namanya Karin gimana?" (mendandak nunjuk ke arah saya)
Devi        : "Hmmm Karin ya? Aku kepikiran pensil tulis."
Wulan     : "Kalau aku kepikiran tulisan tapi pake pensil."

- - - Karena ketidakjelasan makna percakapan anak umur 5 tahun, lebih baik tidak saya teruskan..

Percakapan diatas masih sangat melekat dikepala saya, bagaimana kawan-kawan TK saya menerjemahkan nama saya sebagai = pensil.... Jadilah waktu TK sampai SD kelas 2 saya sangat suka mengoleksi aneka jenis pensil. Dari ketebalah H sampai 5B, dari corak bintang sampai gambar kepala hello kitty, dari yang baunya kaya kayu lapuk sampai yang ada harumnya (seperti pulpen harum yang konon katanya ada narkobanya).
I have no idea about what's the meaning behind my name, Karin. Dan dengan jalan fikir anak dibawah 10 tahun sepuluh tahun lampau masih sangat polos, lugu dan naif jadi saya percaya-percaya saja teori teman-teman TK saya itu.
Dan sampai akhirnya entah SD kelas berapa saya bertanya kepada Mama saya tentang nama Karin ini. Ohya nama saya Karina tapi dipanggil dimana-mana Karin (kecuali sama bapak-ibu guru)

Saya         : "Ma, siapa yang kasih nama aku pas lahir dulu?"
Mama      : "Yah Mama dong, makanya keren kan. Kalau Papa yang ngasih mah jangan harap bisa keren."
Saya         : "Memang artinya apa Karin itu?"
Mama      : "Mama juga lupa. Pokoknya pas Mama hamilin kamu Mama lagi suka banget sama Karina Soekarno, anaknya
                Pak Soekarno dari istinya yang orang Jepang ituloh."
Saya         : "Kenapa ngefans banget Ma?"
Mama      : "Habis Karina Soekarno itu cantik banget. Mama ngarepnya kamu secantik dia. Eh ternyata... kamu
                fotokopian bapakmu banget nak."

Ternyata Mama saya terinspirasi dari nama salah satu anak Bung Karno dan alhamdulillahnya bukan Megawati (maaf Bu Mega, bukannya gimana ya Bu, agak kuno). Dan saat itu saya gak tau sama sekali siapa itu Karina Soekarno karena saya gak pernah saya lihat di televisi ataupun koran ataupun majalah. Saya gak ada kebayang sosok cantik jelita seorang Karina Soekarno yang digemari banget oleh si Mama. Man, please pada saat itu internet belum masuk kota-kota kecil.

Dan akhirnya kemarin saya lagi iseng googling tentang sejarah hidup presiden-presiden Indonesia #menyambutpemilu termasuk salah satunya Bung Karno dan terkenanlah saya akan Karina Soekarno dan teori pensil jaman TK itu. Dan akhirnya untuk pertama kalinya saya melihat rupa Karina Soekarno itu......

Karina Kartika Sari Dewi Soekarno

Beliaulah si tante cantik yang dipuja-puji Mama saya. Gak salah sih Mama saya pengen anaknya secantik beliau, cantik banget sih, cantiknya itu cantik anggun yang gak nyantai.
Berat Ma, berat...
Ohya, si tante cantik ini mendirikan yayasan bergerak di bidang sosial dan lingkungan namanya Kartika Soekarno Foundation (klik untuk lihat websitenya).

Nama kan sebuah doa ya, yah inilah doa si Mama supaya anaknya secantik tante Karina Soekarno. Insha Allah ya Ma, doain aja anakmu ini secantik dan sesukses tante Karina Soekarno, AMIN!

Dan inilah arti dari Karin/Karina itu sesungguhnya :
Karina"/Kariːnɑː/"
It is mainly used in Greece, Scandinavia and Poland; when spelt Carina it is used in Italy and Spain.
The meaning of Karina is pure or chaste  
Karina also means "Beautiful" in Italian and "Kind" in Japanese.

So, apa kisah dibalik namamu?

2/23/2014

Puisi Siap Saji - 3

Kali pertama mencoba berkata-kata bukan dalam bahasa ibu. Saya curahkan dua hari untuk menyelesaikannya, menyusun kata-kata, mentranslate dan berusaha memperbaiki tataan kalimatnya. Tapi yah udahlah kalo salah, berarti emang ga bakat puitis bule ala-ala Shakespare.
And I know it's too lame and chessy, toh kan buat ekspres bukan impress :">

- - -

You

There're wrinkles at the corner of your eyes that I like to see when you smile and laugh. Your crispy voice is my personal heroin that could constricting my pupils. Your sarcasm are number one in my top ten. I like you, from the tip of your hairs to tip of your toes.

Your presence could be my four leafed clover and could be my spilled salt. You're my saviour, my burden and my muse.
They called you sun, I agree. Sometimes you are too heartless and burn everything with your flame and sometimes you bring an intimate warmth along those beautiful rays. People loves you, people hate you. So, I do. I hate you when you're too close and too far. I love you when you're too close and too far too. I love you because I love you, I hate you because I love you.
You make me grow, you let me wilt.
Under those stars I pray for you. 
Under that blue sky I think of you.
I was there, in my shadow form, try to catch up with important pages of your life. I am here, now, watching you have found your own heroin, your life-dope. I will always be there, for sunny and stormy days, for nothing to nothing.
I am infatuating you.
And it's true.